Sunday, October 08, 2006

PERAN MAHASISWA PERTANIAN DALAM PROSES REVITALISASI PERTANIAN INDONESIA

PENDAHULUAN

Suatu negara yang berada sepanjang garis khatulistiwa secara geografis memiliki kecenderungan beriklim tropis dan memiliki kekayaan alam yang melimpah. Daerah yang beriklim tropis pada umumnya akan memiliki dua musim yakni musim basah (hujan) dan musim kering (kemarau). Kondisi ini membuat negara-negara yang dilalui oleh garis khatulistiwa akan memiliki banyak flora dan fauna tropis yang sangat melimpah. Tentu saja hal ini menjadi sebuah kekuatan sekaligus potensi bagi negara tersebut.

Salah satu negara yang dilalui oleh garis khatulistiwa adalah Indonesia. Indonesia merupakan negara yang sangat besar dengan potensi darat dan laut yang melimpah. Indonesia memiliki luas hutan terbesar ke-3 di dunia dengan jutaan spesies flora dan fauna yang di negara lain tidak tersedia. Selain itu, luas lahan pertanian dan perkebunan yang terhampar luas dari ujung barat Indonesia (sabang) hingga ujung timur Indonesia (merauke) menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara kaya sumber daya alam. Indonesia pun memiliki luas laut yang sangat besar bahkan Indonesia terkenal dengan negara kepulauan (baca : NKRI).

Salah satu potensi yang masih belum dapat dimanfaatkan dengan optimal oleh bangsa Indonesia adalah potensi pertanian yang terhampar sangat luas dengan karakteristik-karakteristik iklim yang berbeda. Potensi pertanian Indonesia dalam arti pengertian pertanian yang seluas-luasnya antara lain pertanian sawah, buah-buahan, sayuran, palawija, perkebunan, peternakan, perikanan air tawar dan laut, hutan, dan lain sebagainya, yang semua itu adalah potensi yang disadari oleh seluruh bangsa Indonesia.

Ketidaksadaran akan kekayaan alam yang dimiliki terutama kekayaan potensi pertanian disebabkan oleh salahnya pemahaman akan pertanian itu sendiri. Pertanian hanya diartikan sebagai aktifitas menanam padi dan sayuran di pedesaan. Padahal menurut Andi Hakim Nasution (1990), bahwa pertanian diartikan sebagai suatu usaha untuk mengadakan suatu ekosistem buatan yang bertugas menyediakan bahan makanan bagi manusia. Semua kebutuhan manusia dapat dipenuhi dari bidang pertanian. Sehingga semua potensi yang dimiliki –tidak hanya pesawahan- dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Kebutuhan pangan manusia tidak hanya unsur karbohidrat yang berasal dari beras akan tetapi manusia membutuhkan zat-zat lain untuk memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi. Kebutuhan akan gizi dan nutrisi contohnya buah-buahan dan sayuran yang dapat memenuhi kebutuhan vitamin, hewan ternak dan ikan yang dapat memenuhi kebutuhan protein hewani. Selain kebutuhan akan pangan, pertanian juga bisa memenuhi kebutuhan akan sandang dan papan. Pakaian yang dipakai oleh kita sehari-hari merupakan bahan jadi dari kapas yang notabene komoditi pertanian. Kayu yang digunakan untuk membangun rumah tinggal kita merupakan komoditi pertanian dari sektor kehutanan. Jadi bisa disimpulkan bahwa pertanian harus diartikan seluas-luasnya yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia akan pangan, sandang dan papan.

Kondisi pertanian sejak Indonesia merdeka sampai saat ini memang cenderung berjalan di tempat. Walaupun tidak dapat dipungkiri juga bahwa pada suatu masa, pertanian Indoensia dapat dijadikan sebuah kebanggaan. Keberhasilan swasembada beras pada tahun 1984 (orde baru) menjadi sebuah catatan sejarah pertanian yang indah. Akan tetapi total impor beras tertinggi pada periode 2000-2001 (reformasi) juga merupakan catatan sejarah pertanian yang buruk. Bahkan sampai tahun 2006 saat ini, Indonesia masih mengimpor beras walaupun jumlah tidak sebanyak periode awal-awal reformasi.

Memang sejak jatuhnya rezim orde baru dan digantikan oleh periode reformasi Indonesia mengalami masa transisi pemerintahan di segala bidang. Anehnya saat proses transisi itu dimulai tahun 1998, saat itu nilai tukar rupiah merosot tajam hingga level Rp. 17.000, satu-satunya sektor yang bertahan menghadapi krisis adalah UKM yang sebagian besar UKM (usaha menengah kecil) itu di bidang agroindustri (industro berbasis pertanian). Para pengamat ekonomi menilai bahwa dampak krisis tidak dirasakan oleh UKM-UKM disebabkan UKM yang ada berbasis sumber daya lokal yang secara sehat dapat bersaing dengan produk lain.

Keberhasilan UKM yang berbasis pertanian menghadapi krisis ekonomi pada tahun 1997 membuktikan bahwa sektor pertanian tidak bisa dianggap remeh oleh pemerintah. Karena secara faktual pertanian menjadi bidang utama (leading sector) ekonomi rakyat. Bahwa ekonomi negara merupakan satuan dari ekonomi-ekonomi rakyat maka memang pertanian harus mendapat perhatian intensif. Sehingga Indonesia tidak lagi terbuai oleh mimpi indah potensi kekayaan alam yang melimpah akan tetapi sadar dan bangkit dengan potensi yang dimiliki salah satunya potensi pertanian.

Kondisi ini semakin diperparah dengan menurunnya minat dan semangat generasi muda Indonesia untuk bersama-sama memajukan pertanian. Saat ini sumber daya manusia terutama dari kalangan pemuda sudah meninggalkan bidang ini karena dianggap bidang yang tidak akan memberikan masa depan yang cerah. Walaupun masih banyak sarjana-sarjana pertanian akan tetapi lulusan pertanian pun kehilangan orientasinya saat keluar dari kampus bahkan ketika dikampus. Tidak sedikit lulusan pertanian yang tidak bekerja di bidang pertanian itu sendiri.


PERTANIAN SAAT INI

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa sejak Indonesia merdeka sampai saat ini kondisi pertanian Indonesia masih berjalan di tempat. Hal ini dapat dilihat dari daya saing hasil-hasil pertanian kita dengan negara-negara tetangga yang pernah belajar kepada kita. Kesejahteraan petani yang masih sangat mengkhawatirkan, besarnya impor buah-buahan, semakin sedikitnya lahan pertanian karena dialihfungsikan menjadi gedung-gedung bertingkat, dan melemahnya semangat generasi muda untuk memajukan pertanian. Semua permasalahan itu berujung bahwa pertanian sepertinya tidak akan memberikan masa depan yang menggembirakan dan semua itu berpangkal dari tidak termanfaatkannya semua potensi pertanian yang dimiliki.

Program Revitalisasi Pertanian yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 11 Juni 2005 dilatar belakangi oleh fakta empiris yang telah diuraikan pada bagian pendahuluan. Bahwa pertanian adalah bagian vital dalam mewujudkan kesejahteraan umum. Agenda pokok dari Revitalisasi Pertanian adalah mempercepat peningkatan produksi dan nilai tambah produk pertanian.

Namun kita menghadapi persoalan dalam melaksanakan program tersebut. Persoalan-persoalan tersebut contohnya sumber daya yang semakin sedikit terutama lahan, investasi, kelembagaan dan skala usaha yang masih kecil. Memang secara tugas, itu semua menjadi tanggungan pemerintah pusat yang bekerja sama dengan pemerintah daerah, akan tetapi kita sebagai warga negara Indonesia harus turut bahu membahu membangun pertanian dengan berbagai permasalahan tersebut.


PERANAN MAHASISWA PERTANIAN

Peran dan Fungsi Mahasiswa

Sejak tahun 1908 hingga peristiwa perguliran kekuasaan dari pemerintahan Soeharto ke pemerintahan reformasi dikatakan oleh beberapa pengamat politik bahwa mahasiswa memiliki peranan secarapolitik dan sosial bagi perubahan sebuah bangsa. Mahasiswa memiliki berbagai peran, yang peran itu baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi proses perubahan. Peristiwa terbunuhnya Arif Rahman Hakim pada tahun 1966 mengakibatkan kondisi sosial politik masa orde lama tidak stabil sampai akhirnya Soekarno turun dari jabatannya. Bahkan peristiwa turunnya Presiden Abdurrahman Wahid mahasiswa berperan secara langsung dengan radikalisasi isu dikalangan elit dan masyarakat.

Selian peran politik mahasiswa juga ternyata memiliki peran besar dalam transformsi nilai-nilai sosial budaya di beberapa daerah. Program BIMAS (Bimbingan Massal) yang membantu penyebaran kehidupan yang berlandaskan Bhineka Tunggal Ika dapat mentrnasformasikan sedikitnya nilai-nilai budaya dan sosial yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut kepada masyarakat yang didatanginya. Kegiatan-kegiatan bakti sosial yang saat ini banyak dilakukan oleh banyak mahasiswa Indonesia merupakan salah satu peran transformasi nilai-nilai sosial, kebersamaan, dan saling membantu.

Dari ilustrasi tersebut dapat dikatakan bahwa peran dan fungsi mahasiswa yaitu : Pertama, bahwa mahasiswa sebagai Iron Stock (Cadangan Keras) bangsa ini, artinya bahwa mahasiswa dengan khasanah intelektualitasnya merupakan cadangan generasi penerus bangsa ini. Mahasiswa menyediakan cadangan-cadangan sumber daya manusia dari berbagai disiplin ilmu seperti politik, budaya, seni, sosial, pengusaha, olah raga, negarawan dan lain sebagainya. Hal ini penting karena setiap jaman memiliki tokoh dan pergantian itu memerlukan regenerasi dari mahasiswa sebagai calon pemimpin-pemimpin masa depan. Kedua, bahwa mahasiswa sebagai Agent of Change (Agen Perubah) bangsa ini, artinya bahwa dari peristiwa-peristiwa bersejarah bangsa ini, mahasiswa selalu berperan dalam perubahan itu. Mahasiswa selalu manjadi aktor dari sebuah perubahan dari masa transisi ke masa stabil, transformasi nilai-nilai dengan kapasitas pengetahuannya yang luas. Ketiga, bahwa mahasiswa sebagai Moral Force (Gerakan Moral) bangsa ini yang secara independen memperjuangkan hak-hak orang yang tertindas dengan nilai-nilai idealisme dan intelektual rasional yang dewasa. Sehingga mahasiswa bisa menjadi balancing power saat negara ini dalam kondisi instabilitas. Mahasiswa menjadi mitra yang konstruktif dalam mengingatkan kebijakan pemerintah yang keluar dari nilai-nilai idealisme kebaikan.


Mengapa Menjadi Mahasiswa Pertanian ?

Melihat kondisi pertanian yang tidak terbersit pun bayangan di pikiran kita bahwa pertanian akan memberikan dampak positif bagi bangsa ini dan semakin berkurangnya generasi muda pertanian yang secara hati menambatkan cintanya untuk bidang ini, maka tidak ada lagi generasi yang secara kapasitas intelektual mumpuni dan bisa memberikan perubahan yang signifikan terhadap pertanian kecuali Mahasiswa Pertanian. Mahasiswa Pertanian diinterpretasikan bukan hanya seorang mahasiswa yang menuntut ilmu secara spesifik di bidang pertanian, akan tetapi seluruh mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu baik secara langsung maupun tidak langsung memiliki konsentrasi dalam memperbaiki sektor pertanian atau industri berbasis pertanian (agroindustry).

Mengapa semua mahasiswa dapat diartikan sebagai Mahasiswa Pertanian ? Karena pada hakekatnya mahasiswa tidak lagi mendapatkan ilmu akan tetapi mahasiswa harus menemukan ilmu. Spesifikasi berwawasan global, itulah yang dibutuhkan oleh mahasiswa Indonesia. Tentunya mahasiswa yang bergelut di bidang ilmu pertanian sudah menjadi sebuah idealismenya untuk membangun pertanian. Walaupun terkadang memang mereka kehilangan orientasi dalam idealismenya. Hal ini wajar karena manusia membutuhkan hidup dan hidup membutuhkan makan. Tetapi hal ini pada dasarnya akan bisa diatasi dengan kita konsisten pada jalan yang kita tempuh dengan usaha dan kerja keras serta kesabaran.

Pertanyaan kedua adalah mengapa kita harus menjadi mahasiswa pertanian? Jawabannya bahwa kita adalah negara agraris yang lahan pertanian kita sangat luas dan pertanian adalah satu-satunya bidang yang bisa menyerap tenaga kerja terbanyak. Sehingga peran mahasiswa pertanian bisa secara langsung dirasakan oleh bangsa ini. Selain itu, kondisi sumber daya alam dan sebagaian besar masyarakat Indonesia bermata pencaharian dari pertanian (dalam arti luas). Sehingga pertanian menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia. Jika pertanian maju maka kesejahteraan pun akan maju terutama nilai tukar petani (indikator kesejahteraan petani).

Sudah jelas bahwa kita harus menjadi insan-insan pertanian yang siap menjadi generasi muda pertanian yang menyimpan harapan kepada generasi selanjutnya bahwa pertanian memiliki masa depan bahagia. Dengan disiplin ilmu yang dimiliki maka harapannya pertanian Indonesia memiliki daya saing yang setara dengan negara-negara maju, karena notabenenya negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, Australia, mereka memiliki sektor pertanian yang sangat maju pula.


Pelajaran dari Program BIMAS (Bimbingan Massal)

Setelah kita membicarakan peran dan fungsi mahasiswa dan kondisi pertanian kita, maka kita pun harus belajar dari sebuah pengalaman yang dari satu sisi dapat dikatakan baik dan di sisi lain pengalaman tersebut dikatakan buruk. Pada tahun 1980-an diluncurkan sebuah program pemerintah yang menurunkan seluruh mahasiswa untuk membantu masyarakat dalam program BIMAS (Bimbingan Massal). Termasuk mahasiswa pertanian, sedikitnya 3000 mahasiswa diturunkan setiap tahunnya untuk membantu petani-petani dalam menjalankan aktifitas pertaniannya dengan bekal ilmu yang telah didapat di bangku kuliah.

Satu sisi BIMAS menjadi program andalan pada waktu itu, karena hasilnya bisa dirasakan secara langsung misalnya pada tahun 1984 Indonesia swasembada beras bahkan Indonesia merupakan negara pengekspor beras. Akan tetapi di sisi lain mahasiswa menjadi tenaga kerja murahan yang dipekerjakan secara ‘paksa’ (Nasution, A H, 1979). Program BIMAS yang dirancang sebagai program yang ditujukan untuk mendekatkan mahasiswa yang pada saat itu perannya tidak terlihat dengan masyarakat yang menunggu hadirnya kaum-kaum intelektual.

Segala kebijakan pasti memiliki konsekuensi yang harus diambil, seperti halnya program BIMAS. Berbagai permasalahan banyak terjadi saat program ini digulirkan salah satunya banyak mahasiswa yang tidak melanjutkan studinya setelah masa BIMAS selesai, mereka memilih untuk tinggal di tempat tugas. Hal ini dikarenakan kehidupan di sana lebih terjamin dibanding studi yang belum tentu memiliki masa depan yang baik. Akhirnya tujuan perguruan tinggi yakni mencetak para pemimpin yang dapat menyelesaikan masalah-masalah bangsa tidak tercapai. Perguruan tinggi dijadikan sebagai tempat mencetak generasi yang hanya siap dikerjakan menjadi buruh-buruh pabrik dan dan tenaga-tenaga kuli. Oleh karena itu, kita harus bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah kita lakukan di jaman dahulu untuk dijadikan sebuah pertimbangan dalam memutuskan kebijakan pertanian.


Mahasiswa Pertanian Saat Ini

Hampir ratusan perguruan tinggi negeri dan swasta pertanian berdiri dengan kokoh di atas bumi Indonesia ini. Setiap tahun tidak kurang dari 10.000 mahasiswa di kampus-kampus pertanian lulus dengan predikat memuaskan bahkan cum laude. Akan tetapi jika kita melihat kondisi ironisnya pertanian Indonesia yang telah dipaparkan sebelumnya, mungkin kita sendiri akan bertanya, kemana larinya sarjana-sarjana pertanian itu ? Pertanyaan ini langsung bisa dijawab, jawabannya adalah mereka ada di Bank-bank negeri maupun swasta, mereka ada di perusahaan publikasi-publikasi dan entertaiment. Lalu pertanyaan berikutnya yang muncul adalah kemanakah kemampuan yang dimiliki di bidang pertanian pada saat kuliah yang begitu cemerlang ?, Apa yang mereka kerjakan di perusahaan-perusahaan non pertanian tersebut ?, Masih ingatkah mereka akan idealismenya akan pertanian ?. Sejumlah pertanyaan itu mungkin suatu saat akan menghantam kita sebagai mahasiswa pertanian yang secara manusia membutuhkan hidup.

Kondisi alumni-alumni perguruan tinggi pertanian yang sebagian besar tidak bekerja di bidang pertanian disebabkan pola penanaman akan kecintaan terhadap pertanian yang kurang saat masih di bangku kuliah. Sebenarnya lebih tepatnya bukan kecintaan akan tetapi sebuah kesadaran bahwa pertanian merupakan sektor yang menjanjikan bagi masa depan diri maupun bangsa secara keseluruhan. Kegiatan-kegitan kemahasiswaan yang digelar hampir di semua perguruan tinggi pertanian hanya sebagian kecil saja yang mencerminkan lembaga kemahasiswaan pertanian. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan lebih didominasi oleh kegiatan-kegiatan musik, hura-hura yang sia-sia, seni, seminar psikologi, training jurnalistik dan lain sebagainya. Kegiatan seperti bina desa pertanian, field trip agroindustry, kunjungan ke perkebunan, seminar tentang agribisnis masih sangat kecil peminatnya walaupun berada di dalam suasana kampus pertanian. Inilah wajah mahasiswa pertanian yang semestinya akan meneruskan langkah-langkah generasi terdahulu membangun Indonesia dari pertanian.


Mengapa Kita Harus Berkontribusi ?

Selaku mahasiswa maka sepatutnya lah kita dapat memberikan sebuah kontribusi terhadap perubahan bangsa ini. Mengingat peran dan fungsi mahasiswa yang telah dijabarkan secara indah tidak bisa di tunda apalagi sampai ditinggalkan. Kenapa kita harus memberikan kontribusi kepada negara ini ? Karena kita lahir dari tanah air ini, kita besar oleh tanah air ini dan kita mati pun di tanah air ini. Kita dibesarkan oleh uang-uang negara yang berasal dari pajak-pajak masyarakat yang setiap tahunnya seorang mahasiswa mendapatkan minimal 6 juta rupiah persemester untuk membiayai kuliahnya di perguruan tinggi.

Uang-uang rakyat yang disalurkan melalui dana pendidikan itu akan menjadi hutang bagi seluruh mahasiswa di kemudian hari saat mereka tidak dapat memberikan kontribusi terhadap negara ini walaupun kontibusi itu tidak dirasakan langsung oleh masyarakat. Tertarik dengan sebuah pertanyaan dari seorang mahasiswa Malaysia yang bertandang ke negara ini beberapa bulan yang lalu tepatnya bulan Mei 2006. mereka bertanya kepada mahasiswa yang hadir di dalam pertemuan itu. Pertanyaannya simple akan tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Mereka menanyakan, apa yang telah anda berikan bagi kerajaan (baca : negara) anda selama menjadi mahasiswa ? Dengan penuh kekagetan dan rasa minder mahasiswa Indonesia yang hadir pada saat itu menjabarkan tentang program bina desa pertanian yang sedang digulirkan oleh lembaga kemahasiswaan di perguruan tinggi negeri itu. Pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut adalah bahwa mahasiswa di negara tetangga kita Malaysia, mereka pada saat masih menjadi mahasiswa –masih kuliah- sudah memikirkan bagaimana dia bisa memberikan kontribusinya terhadap kerajaannya dia yakni Malaysia. Itulah mahasiswa Malaysia yang senantiasa memberikan kontribusinya sekecil apapun kepada negaranya. Dan ini terbukti dengan majunya sektor pertanian yang ada di sana. Bahkan Malaysia yang pada periode tahun 1970-1980 –an mereka masih belajar dan menimba ilmu dari Indonesia, sekarang Malaysia sudah bisa melebihi gurunya yaitu Indonesia.


Peluang Kontribusi Mahasiswa Pertanian

Apabila hari ini masih banyak mahasiswa pertanian yang bertanya tentang apa yang bisa mereka berikan sebagai tanda kontribusinya kepada negara ini maka sangat ironis sekali bahwasannya insan-insan cendikia berintelektualitas tinggi di bidang pertanian tidak mengetahui peran dan kontribusi apa yang akan diberikan untuk kemajuan pertanian. Kontribusi mahasiswa khususnya mahasiswa pertanian sering disalahartikan dan hanya terbatas bahwa kontribusi yang bisa dilakukan hanya melalui aksi-aksi demonstrasi mengkritisi kebijakan pertanian yang cenderung merugikan petani. Padahal kontribusi-kontribusi lain yang dapat diberikan oleh seorang mahasiswa pertanian dengan kekayaan khasanah jiwa dan semangat pertaniannya sangat banyak, misalnya melalui pendampingan petani dalam program bina desa pertanian, training-training yang dilakukan melalui kelembagaan mahasiswa di tingkat perguruan tinggi, kampanye membangun image pertanian dan lain sebagainya.

Masih banyak peluang kontribusi yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa pertanian seperti mengirimkan tulisan yang berisi pemikiran-pemikiran penting tentang kebijakan pertanian yang sedang digulirkan, melakukan penelitian yang dipublikasikan ke masyarakat dan dunia usaha,dan masih banyak lagi peluang yang bisa dijadikan celah untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan pertanian Indonesia. Hanya saja peluang-peluang kontribusi yang ada dihadapan mata itu tidak akan terlaksana jika tidak ada niat yang kuat dari mahasiswa pertanian itu sendiri sebagai subjeknya.


Peranan Mahasiswa dalam Revitalisasi Pertanian

Setelah kita membicarakan tentang peluang kontribusi yang dapat diberikan oleh seorang mahasiswa pertanian, selanjutnya secara spesifik akan diuraikan tentang peranan seorang mahasiswa pertanian yang bisa dilakukan saat ini terkait dengan program Revitalisasi Pertanian yang telah digulirkan satu tahun silam oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Waduk Jati Luhur Purwakarta. Beberapa catatan penulis yang bisa dijadikan bahan perenungan dan pemikiran mendalam tentang bagaimana peranan yang diberikan oleh mahasiswa pertanian dalam Revitalisasi Pertanian.

Peranan yang bisa diambil oleh mahasiswa harus disesuaikan dengan program pemerintah dalam hal ini Departemen Pertanian agar tercipta sinergisitas yang kbersifat konstruktif. Program Departemen Pertanian yang tertuang dalam blue print Revitalisasi Pertanian adalah meningkatkan ketahanan pangan, pertanian berbasis agroindustri dan kesejaterahaan petani. Dari sana mahasiswa bisa memberikan peranan yang signifikan dalam rangka membantu mempercepat terlaksananya program-program tersebut. Peranan yang bisa diambil oleh seorang mahasiswa pertanian yang berlandaskan peran dan fungsi mahasiswa secara umum adalah sebagai berikut :

1. Melakukan pendampingan petani yang menyeluruh, langkah ini dilakukan guna membantu menambah pengetahuan secara teoritis yang disesuikan dengan lapangan melalui lembaga-lembaga kemahasiswaan baik di tingkat institusi perguruan tinggi maupun komunitas mahasiswa pertanian di tingkat nasional. Peran ini diambil dalam rangka mempercepat proses transformasi ilmu-ilmu pertanian modern ke dalam masyarakat petani sehingga proses pengembangan pertanian berbasis agroindustri akan dengan cepat terwujud. Pendampingan petani ini bisa dilakukan dengan berkerjasama dengan NGO yang bergerak dibidang pertanian dan Dinas Pertanian setempat untuk menselaraskan program pendampingan dengan program Dinas setempat. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pendampingan ini dari mulai proses pembukaan lahan (jika ada), budidaya, pemeliharaan, panen dan pasca panen, teknologi pengolahan sampai proses pemasaran dan kelembagaan. Mahasiswa dapat membantu dengan sarana penyuluhan dan training kepada petani juga memerbikan peluang pasar yang dapat digunakan oleh petani dalam menjual hasil pertaniannya.

2. Melakukan kegiatan yang membangun image of agriculture, peran ini hanya bisa dilakukan oleh mahasiswa yang memiliki jaringan nasional dan basis massa yang besar. Pembangunan citra pertanian sangat perlu untukmerubah paradigma berpikir bangsa Indonesia tentang pertanian. Citra pertanian saat ini sangat menurun terutama di tingkat anak-anak sekolah dasar sampai sekolah menengah ke atas bahkan di tingkat perguruan tinggi. Kampanye-kampanye pertanian yang membuat generasi muda tersadar akan pentingnya pertanian dengan segala potensi yang dimiliki oleh bangsa kita. Selain melakukan pendekatan-pendekatan dengan sarana radio, televisi, surat kabar dan media publikasi lainnya mahasiswa pertanian bisa melakukan pemasayarakatan pertanian, menyadarkan orang-orang tua dan generasi muda bahwa pertanian tidak hanya mencangkul di sawah dan memiliki masa depan yang suram dengan jalan mengadakan training-training yang bernuansa pertanian yang dikemas dalam acara yang menarik untuk anak-anak SD, SMP dan SMA. Sehingga mereka akan merasakan dekatnya pertanian dangan diri mereka. Disamping memberikan penyadaran terhadap anak-anak remaja dan pemuda, mahasiswa pertanian juga dapat membuka jaringan dengan NGO bersifat global untuk mensosialisasikan atau memberikan informasi yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan stakeholders pertanian yang berasal dari luar negeri.

3. Melakukan advokasi terhadap kondisi petani dan buruh tani sebagai subjek pertanian secara langsung. Advokasi dilakukan saat petani termarginalkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah. Di sinilah peran mahasiswa yaitu sebagai moral force dan balancing power. Advokasi sering dipersempit pengertiannya kepada aksi demonstrasi. Padahal jika kitamengetahui dasar-dasar advokasi maka kesimpulan kita akan mengarah bahwa aksi adalah salah satu bagian terkecil dari advokasi yang dilakukan oleh mahasiswa atau presure group lainnya. Advokasi dapat berupa audiensi terhadap pihak-pihak pemerintah terkait kebijakan yang dikeluarkan, dapat juga dengan memperbaiki distribusi nilai tambah petani sehingga keuntungan terbesar dapat dinikmatioleh petani bukan pelaku-pelaku lain seperti tengkulak. Selain itu mahasiswa juga dapat memberikan masukan konsep tertulis tentang pertanian kepada pemerintah.

Keseluruhan peranan yang bisa diambil oleh mahasiswa khususnya mahasiswa pertanian Indonesia merupakan representasi dari peluang kontribusi yang ada, yang bisa dilakukan oleh mahasiswa. Kontribusi mahasiswa pertanian tidak dapat terlepas dari peranan perguruan tinggi terhadap pembanguan pertanian di Indonesia seperti yang tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan, Penelitian dan pangabdian Masyarakat.

PENUTUP

Indonesia merupakan negara yang beruntung yang diberikan kekayaan alam berupa potensi pertanian yang melimpah. Dan hampir sebagian besar penduduk Indonesia berada di wilayah pedesaan yang bermata pencaharian sebagai petani, buruh tani, nelayan dan lain-lain. Tingkat kesejahteraan petani pun masih rendah, hal ini ditandai dengan kecilnya nilai tukar petani sebagai indikator kesejateraan petani. Pembangunan di sektor pertanian adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh bangsa ini karena pembangunan di sektor pertanian dapat menyelesaikan masalah-masalah seperti kemiskinan, meningkatkan taraf hidup dan menyediakan pangan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Mahasiswa sebagai aktor intelektual muda yang memiliki akses cukup besar ke kalangan bawah (masyarakat) maupu kalangan atas (pemerintah) harus mampu berperan dalam proses pembangunan pertania. Mahasiswa pertanian dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah pertanian dengan ilmu yang dimilikinya, membantu percepatan pembangunan pertanian dengan melakukan pendampingan petani, image building of agriculture dan melakukan advokasi-advokasi pertanian yang bisa membantu mensejahterakan petani. Dengan peran-peran itulah pertanian Indonesia akan bangkit dari tangan-tangan pembaharu yakni Mahasiswa Pertanian Indonesia.

Adalah mereka-mereka lah yang akan mendapatkan hasil yang mereka impikan saat jantung mereka sudah tidak berdetak lagi. Idealisme mahasiswa pertanian untuk selalu mengusung perubahan mendasar di bidang pertanian tidak boleh luntur karena permasalahan-permalahan pertanian yang dihadapi, semestinya seorang mahasiswa pertanian harus dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dengan keluasan ilmu dan intelektualitasnya.

Salam perjuangan pertanian atas nama cinta......

Salam cinta atas perjuangan pertanian................

Tiada kata jera dalam perjuangan

Hidup Mahasiswa..............

Hidup Rakyat Indonesia........

Hidup Petani, buruh tani, nelayan, masyarakat pesisir........

Hidup Pertanian Indonesia.....Jayalah Pertanian Indonesia !!!!

1 Comments:

At 12:56 AM, Blogger lidah penghunus said...

assalamualaikum. jemputlah ke http://lindunganbulan.blogspot.com dan http://karyamuslim.blogspot.com

 

Post a Comment

<< Home

Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater: PERAN MAHASISWA PERTANIAN DALAM PROSES REVITALISASI PERTANIAN INDONESIA

Sunday, October 08, 2006

PERAN MAHASISWA PERTANIAN DALAM PROSES REVITALISASI PERTANIAN INDONESIA

PENDAHULUAN

Suatu negara yang berada sepanjang garis khatulistiwa secara geografis memiliki kecenderungan beriklim tropis dan memiliki kekayaan alam yang melimpah. Daerah yang beriklim tropis pada umumnya akan memiliki dua musim yakni musim basah (hujan) dan musim kering (kemarau). Kondisi ini membuat negara-negara yang dilalui oleh garis khatulistiwa akan memiliki banyak flora dan fauna tropis yang sangat melimpah. Tentu saja hal ini menjadi sebuah kekuatan sekaligus potensi bagi negara tersebut.

Salah satu negara yang dilalui oleh garis khatulistiwa adalah Indonesia. Indonesia merupakan negara yang sangat besar dengan potensi darat dan laut yang melimpah. Indonesia memiliki luas hutan terbesar ke-3 di dunia dengan jutaan spesies flora dan fauna yang di negara lain tidak tersedia. Selain itu, luas lahan pertanian dan perkebunan yang terhampar luas dari ujung barat Indonesia (sabang) hingga ujung timur Indonesia (merauke) menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara kaya sumber daya alam. Indonesia pun memiliki luas laut yang sangat besar bahkan Indonesia terkenal dengan negara kepulauan (baca : NKRI).

Salah satu potensi yang masih belum dapat dimanfaatkan dengan optimal oleh bangsa Indonesia adalah potensi pertanian yang terhampar sangat luas dengan karakteristik-karakteristik iklim yang berbeda. Potensi pertanian Indonesia dalam arti pengertian pertanian yang seluas-luasnya antara lain pertanian sawah, buah-buahan, sayuran, palawija, perkebunan, peternakan, perikanan air tawar dan laut, hutan, dan lain sebagainya, yang semua itu adalah potensi yang disadari oleh seluruh bangsa Indonesia.

Ketidaksadaran akan kekayaan alam yang dimiliki terutama kekayaan potensi pertanian disebabkan oleh salahnya pemahaman akan pertanian itu sendiri. Pertanian hanya diartikan sebagai aktifitas menanam padi dan sayuran di pedesaan. Padahal menurut Andi Hakim Nasution (1990), bahwa pertanian diartikan sebagai suatu usaha untuk mengadakan suatu ekosistem buatan yang bertugas menyediakan bahan makanan bagi manusia. Semua kebutuhan manusia dapat dipenuhi dari bidang pertanian. Sehingga semua potensi yang dimiliki –tidak hanya pesawahan- dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Kebutuhan pangan manusia tidak hanya unsur karbohidrat yang berasal dari beras akan tetapi manusia membutuhkan zat-zat lain untuk memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi. Kebutuhan akan gizi dan nutrisi contohnya buah-buahan dan sayuran yang dapat memenuhi kebutuhan vitamin, hewan ternak dan ikan yang dapat memenuhi kebutuhan protein hewani. Selain kebutuhan akan pangan, pertanian juga bisa memenuhi kebutuhan akan sandang dan papan. Pakaian yang dipakai oleh kita sehari-hari merupakan bahan jadi dari kapas yang notabene komoditi pertanian. Kayu yang digunakan untuk membangun rumah tinggal kita merupakan komoditi pertanian dari sektor kehutanan. Jadi bisa disimpulkan bahwa pertanian harus diartikan seluas-luasnya yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia akan pangan, sandang dan papan.

Kondisi pertanian sejak Indonesia merdeka sampai saat ini memang cenderung berjalan di tempat. Walaupun tidak dapat dipungkiri juga bahwa pada suatu masa, pertanian Indoensia dapat dijadikan sebuah kebanggaan. Keberhasilan swasembada beras pada tahun 1984 (orde baru) menjadi sebuah catatan sejarah pertanian yang indah. Akan tetapi total impor beras tertinggi pada periode 2000-2001 (reformasi) juga merupakan catatan sejarah pertanian yang buruk. Bahkan sampai tahun 2006 saat ini, Indonesia masih mengimpor beras walaupun jumlah tidak sebanyak periode awal-awal reformasi.

Memang sejak jatuhnya rezim orde baru dan digantikan oleh periode reformasi Indonesia mengalami masa transisi pemerintahan di segala bidang. Anehnya saat proses transisi itu dimulai tahun 1998, saat itu nilai tukar rupiah merosot tajam hingga level Rp. 17.000, satu-satunya sektor yang bertahan menghadapi krisis adalah UKM yang sebagian besar UKM (usaha menengah kecil) itu di bidang agroindustri (industro berbasis pertanian). Para pengamat ekonomi menilai bahwa dampak krisis tidak dirasakan oleh UKM-UKM disebabkan UKM yang ada berbasis sumber daya lokal yang secara sehat dapat bersaing dengan produk lain.

Keberhasilan UKM yang berbasis pertanian menghadapi krisis ekonomi pada tahun 1997 membuktikan bahwa sektor pertanian tidak bisa dianggap remeh oleh pemerintah. Karena secara faktual pertanian menjadi bidang utama (leading sector) ekonomi rakyat. Bahwa ekonomi negara merupakan satuan dari ekonomi-ekonomi rakyat maka memang pertanian harus mendapat perhatian intensif. Sehingga Indonesia tidak lagi terbuai oleh mimpi indah potensi kekayaan alam yang melimpah akan tetapi sadar dan bangkit dengan potensi yang dimiliki salah satunya potensi pertanian.

Kondisi ini semakin diperparah dengan menurunnya minat dan semangat generasi muda Indonesia untuk bersama-sama memajukan pertanian. Saat ini sumber daya manusia terutama dari kalangan pemuda sudah meninggalkan bidang ini karena dianggap bidang yang tidak akan memberikan masa depan yang cerah. Walaupun masih banyak sarjana-sarjana pertanian akan tetapi lulusan pertanian pun kehilangan orientasinya saat keluar dari kampus bahkan ketika dikampus. Tidak sedikit lulusan pertanian yang tidak bekerja di bidang pertanian itu sendiri.


PERTANIAN SAAT INI

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa sejak Indonesia merdeka sampai saat ini kondisi pertanian Indonesia masih berjalan di tempat. Hal ini dapat dilihat dari daya saing hasil-hasil pertanian kita dengan negara-negara tetangga yang pernah belajar kepada kita. Kesejahteraan petani yang masih sangat mengkhawatirkan, besarnya impor buah-buahan, semakin sedikitnya lahan pertanian karena dialihfungsikan menjadi gedung-gedung bertingkat, dan melemahnya semangat generasi muda untuk memajukan pertanian. Semua permasalahan itu berujung bahwa pertanian sepertinya tidak akan memberikan masa depan yang menggembirakan dan semua itu berpangkal dari tidak termanfaatkannya semua potensi pertanian yang dimiliki.

Program Revitalisasi Pertanian yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 11 Juni 2005 dilatar belakangi oleh fakta empiris yang telah diuraikan pada bagian pendahuluan. Bahwa pertanian adalah bagian vital dalam mewujudkan kesejahteraan umum. Agenda pokok dari Revitalisasi Pertanian adalah mempercepat peningkatan produksi dan nilai tambah produk pertanian.

Namun kita menghadapi persoalan dalam melaksanakan program tersebut. Persoalan-persoalan tersebut contohnya sumber daya yang semakin sedikit terutama lahan, investasi, kelembagaan dan skala usaha yang masih kecil. Memang secara tugas, itu semua menjadi tanggungan pemerintah pusat yang bekerja sama dengan pemerintah daerah, akan tetapi kita sebagai warga negara Indonesia harus turut bahu membahu membangun pertanian dengan berbagai permasalahan tersebut.


PERANAN MAHASISWA PERTANIAN

Peran dan Fungsi Mahasiswa

Sejak tahun 1908 hingga peristiwa perguliran kekuasaan dari pemerintahan Soeharto ke pemerintahan reformasi dikatakan oleh beberapa pengamat politik bahwa mahasiswa memiliki peranan secarapolitik dan sosial bagi perubahan sebuah bangsa. Mahasiswa memiliki berbagai peran, yang peran itu baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi proses perubahan. Peristiwa terbunuhnya Arif Rahman Hakim pada tahun 1966 mengakibatkan kondisi sosial politik masa orde lama tidak stabil sampai akhirnya Soekarno turun dari jabatannya. Bahkan peristiwa turunnya Presiden Abdurrahman Wahid mahasiswa berperan secara langsung dengan radikalisasi isu dikalangan elit dan masyarakat.

Selian peran politik mahasiswa juga ternyata memiliki peran besar dalam transformsi nilai-nilai sosial budaya di beberapa daerah. Program BIMAS (Bimbingan Massal) yang membantu penyebaran kehidupan yang berlandaskan Bhineka Tunggal Ika dapat mentrnasformasikan sedikitnya nilai-nilai budaya dan sosial yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut kepada masyarakat yang didatanginya. Kegiatan-kegiatan bakti sosial yang saat ini banyak dilakukan oleh banyak mahasiswa Indonesia merupakan salah satu peran transformasi nilai-nilai sosial, kebersamaan, dan saling membantu.

Dari ilustrasi tersebut dapat dikatakan bahwa peran dan fungsi mahasiswa yaitu : Pertama, bahwa mahasiswa sebagai Iron Stock (Cadangan Keras) bangsa ini, artinya bahwa mahasiswa dengan khasanah intelektualitasnya merupakan cadangan generasi penerus bangsa ini. Mahasiswa menyediakan cadangan-cadangan sumber daya manusia dari berbagai disiplin ilmu seperti politik, budaya, seni, sosial, pengusaha, olah raga, negarawan dan lain sebagainya. Hal ini penting karena setiap jaman memiliki tokoh dan pergantian itu memerlukan regenerasi dari mahasiswa sebagai calon pemimpin-pemimpin masa depan. Kedua, bahwa mahasiswa sebagai Agent of Change (Agen Perubah) bangsa ini, artinya bahwa dari peristiwa-peristiwa bersejarah bangsa ini, mahasiswa selalu berperan dalam perubahan itu. Mahasiswa selalu manjadi aktor dari sebuah perubahan dari masa transisi ke masa stabil, transformasi nilai-nilai dengan kapasitas pengetahuannya yang luas. Ketiga, bahwa mahasiswa sebagai Moral Force (Gerakan Moral) bangsa ini yang secara independen memperjuangkan hak-hak orang yang tertindas dengan nilai-nilai idealisme dan intelektual rasional yang dewasa. Sehingga mahasiswa bisa menjadi balancing power saat negara ini dalam kondisi instabilitas. Mahasiswa menjadi mitra yang konstruktif dalam mengingatkan kebijakan pemerintah yang keluar dari nilai-nilai idealisme kebaikan.


Mengapa Menjadi Mahasiswa Pertanian ?

Melihat kondisi pertanian yang tidak terbersit pun bayangan di pikiran kita bahwa pertanian akan memberikan dampak positif bagi bangsa ini dan semakin berkurangnya generasi muda pertanian yang secara hati menambatkan cintanya untuk bidang ini, maka tidak ada lagi generasi yang secara kapasitas intelektual mumpuni dan bisa memberikan perubahan yang signifikan terhadap pertanian kecuali Mahasiswa Pertanian. Mahasiswa Pertanian diinterpretasikan bukan hanya seorang mahasiswa yang menuntut ilmu secara spesifik di bidang pertanian, akan tetapi seluruh mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu baik secara langsung maupun tidak langsung memiliki konsentrasi dalam memperbaiki sektor pertanian atau industri berbasis pertanian (agroindustry).

Mengapa semua mahasiswa dapat diartikan sebagai Mahasiswa Pertanian ? Karena pada hakekatnya mahasiswa tidak lagi mendapatkan ilmu akan tetapi mahasiswa harus menemukan ilmu. Spesifikasi berwawasan global, itulah yang dibutuhkan oleh mahasiswa Indonesia. Tentunya mahasiswa yang bergelut di bidang ilmu pertanian sudah menjadi sebuah idealismenya untuk membangun pertanian. Walaupun terkadang memang mereka kehilangan orientasi dalam idealismenya. Hal ini wajar karena manusia membutuhkan hidup dan hidup membutuhkan makan. Tetapi hal ini pada dasarnya akan bisa diatasi dengan kita konsisten pada jalan yang kita tempuh dengan usaha dan kerja keras serta kesabaran.

Pertanyaan kedua adalah mengapa kita harus menjadi mahasiswa pertanian? Jawabannya bahwa kita adalah negara agraris yang lahan pertanian kita sangat luas dan pertanian adalah satu-satunya bidang yang bisa menyerap tenaga kerja terbanyak. Sehingga peran mahasiswa pertanian bisa secara langsung dirasakan oleh bangsa ini. Selain itu, kondisi sumber daya alam dan sebagaian besar masyarakat Indonesia bermata pencaharian dari pertanian (dalam arti luas). Sehingga pertanian menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia. Jika pertanian maju maka kesejahteraan pun akan maju terutama nilai tukar petani (indikator kesejahteraan petani).

Sudah jelas bahwa kita harus menjadi insan-insan pertanian yang siap menjadi generasi muda pertanian yang menyimpan harapan kepada generasi selanjutnya bahwa pertanian memiliki masa depan bahagia. Dengan disiplin ilmu yang dimiliki maka harapannya pertanian Indonesia memiliki daya saing yang setara dengan negara-negara maju, karena notabenenya negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, Australia, mereka memiliki sektor pertanian yang sangat maju pula.


Pelajaran dari Program BIMAS (Bimbingan Massal)

Setelah kita membicarakan peran dan fungsi mahasiswa dan kondisi pertanian kita, maka kita pun harus belajar dari sebuah pengalaman yang dari satu sisi dapat dikatakan baik dan di sisi lain pengalaman tersebut dikatakan buruk. Pada tahun 1980-an diluncurkan sebuah program pemerintah yang menurunkan seluruh mahasiswa untuk membantu masyarakat dalam program BIMAS (Bimbingan Massal). Termasuk mahasiswa pertanian, sedikitnya 3000 mahasiswa diturunkan setiap tahunnya untuk membantu petani-petani dalam menjalankan aktifitas pertaniannya dengan bekal ilmu yang telah didapat di bangku kuliah.

Satu sisi BIMAS menjadi program andalan pada waktu itu, karena hasilnya bisa dirasakan secara langsung misalnya pada tahun 1984 Indonesia swasembada beras bahkan Indonesia merupakan negara pengekspor beras. Akan tetapi di sisi lain mahasiswa menjadi tenaga kerja murahan yang dipekerjakan secara ‘paksa’ (Nasution, A H, 1979). Program BIMAS yang dirancang sebagai program yang ditujukan untuk mendekatkan mahasiswa yang pada saat itu perannya tidak terlihat dengan masyarakat yang menunggu hadirnya kaum-kaum intelektual.

Segala kebijakan pasti memiliki konsekuensi yang harus diambil, seperti halnya program BIMAS. Berbagai permasalahan banyak terjadi saat program ini digulirkan salah satunya banyak mahasiswa yang tidak melanjutkan studinya setelah masa BIMAS selesai, mereka memilih untuk tinggal di tempat tugas. Hal ini dikarenakan kehidupan di sana lebih terjamin dibanding studi yang belum tentu memiliki masa depan yang baik. Akhirnya tujuan perguruan tinggi yakni mencetak para pemimpin yang dapat menyelesaikan masalah-masalah bangsa tidak tercapai. Perguruan tinggi dijadikan sebagai tempat mencetak generasi yang hanya siap dikerjakan menjadi buruh-buruh pabrik dan dan tenaga-tenaga kuli. Oleh karena itu, kita harus bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah kita lakukan di jaman dahulu untuk dijadikan sebuah pertimbangan dalam memutuskan kebijakan pertanian.


Mahasiswa Pertanian Saat Ini

Hampir ratusan perguruan tinggi negeri dan swasta pertanian berdiri dengan kokoh di atas bumi Indonesia ini. Setiap tahun tidak kurang dari 10.000 mahasiswa di kampus-kampus pertanian lulus dengan predikat memuaskan bahkan cum laude. Akan tetapi jika kita melihat kondisi ironisnya pertanian Indonesia yang telah dipaparkan sebelumnya, mungkin kita sendiri akan bertanya, kemana larinya sarjana-sarjana pertanian itu ? Pertanyaan ini langsung bisa dijawab, jawabannya adalah mereka ada di Bank-bank negeri maupun swasta, mereka ada di perusahaan publikasi-publikasi dan entertaiment. Lalu pertanyaan berikutnya yang muncul adalah kemanakah kemampuan yang dimiliki di bidang pertanian pada saat kuliah yang begitu cemerlang ?, Apa yang mereka kerjakan di perusahaan-perusahaan non pertanian tersebut ?, Masih ingatkah mereka akan idealismenya akan pertanian ?. Sejumlah pertanyaan itu mungkin suatu saat akan menghantam kita sebagai mahasiswa pertanian yang secara manusia membutuhkan hidup.

Kondisi alumni-alumni perguruan tinggi pertanian yang sebagian besar tidak bekerja di bidang pertanian disebabkan pola penanaman akan kecintaan terhadap pertanian yang kurang saat masih di bangku kuliah. Sebenarnya lebih tepatnya bukan kecintaan akan tetapi sebuah kesadaran bahwa pertanian merupakan sektor yang menjanjikan bagi masa depan diri maupun bangsa secara keseluruhan. Kegiatan-kegitan kemahasiswaan yang digelar hampir di semua perguruan tinggi pertanian hanya sebagian kecil saja yang mencerminkan lembaga kemahasiswaan pertanian. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan lebih didominasi oleh kegiatan-kegiatan musik, hura-hura yang sia-sia, seni, seminar psikologi, training jurnalistik dan lain sebagainya. Kegiatan seperti bina desa pertanian, field trip agroindustry, kunjungan ke perkebunan, seminar tentang agribisnis masih sangat kecil peminatnya walaupun berada di dalam suasana kampus pertanian. Inilah wajah mahasiswa pertanian yang semestinya akan meneruskan langkah-langkah generasi terdahulu membangun Indonesia dari pertanian.


Mengapa Kita Harus Berkontribusi ?

Selaku mahasiswa maka sepatutnya lah kita dapat memberikan sebuah kontribusi terhadap perubahan bangsa ini. Mengingat peran dan fungsi mahasiswa yang telah dijabarkan secara indah tidak bisa di tunda apalagi sampai ditinggalkan. Kenapa kita harus memberikan kontribusi kepada negara ini ? Karena kita lahir dari tanah air ini, kita besar oleh tanah air ini dan kita mati pun di tanah air ini. Kita dibesarkan oleh uang-uang negara yang berasal dari pajak-pajak masyarakat yang setiap tahunnya seorang mahasiswa mendapatkan minimal 6 juta rupiah persemester untuk membiayai kuliahnya di perguruan tinggi.

Uang-uang rakyat yang disalurkan melalui dana pendidikan itu akan menjadi hutang bagi seluruh mahasiswa di kemudian hari saat mereka tidak dapat memberikan kontribusi terhadap negara ini walaupun kontibusi itu tidak dirasakan langsung oleh masyarakat. Tertarik dengan sebuah pertanyaan dari seorang mahasiswa Malaysia yang bertandang ke negara ini beberapa bulan yang lalu tepatnya bulan Mei 2006. mereka bertanya kepada mahasiswa yang hadir di dalam pertemuan itu. Pertanyaannya simple akan tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Mereka menanyakan, apa yang telah anda berikan bagi kerajaan (baca : negara) anda selama menjadi mahasiswa ? Dengan penuh kekagetan dan rasa minder mahasiswa Indonesia yang hadir pada saat itu menjabarkan tentang program bina desa pertanian yang sedang digulirkan oleh lembaga kemahasiswaan di perguruan tinggi negeri itu. Pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut adalah bahwa mahasiswa di negara tetangga kita Malaysia, mereka pada saat masih menjadi mahasiswa –masih kuliah- sudah memikirkan bagaimana dia bisa memberikan kontribusinya terhadap kerajaannya dia yakni Malaysia. Itulah mahasiswa Malaysia yang senantiasa memberikan kontribusinya sekecil apapun kepada negaranya. Dan ini terbukti dengan majunya sektor pertanian yang ada di sana. Bahkan Malaysia yang pada periode tahun 1970-1980 –an mereka masih belajar dan menimba ilmu dari Indonesia, sekarang Malaysia sudah bisa melebihi gurunya yaitu Indonesia.


Peluang Kontribusi Mahasiswa Pertanian

Apabila hari ini masih banyak mahasiswa pertanian yang bertanya tentang apa yang bisa mereka berikan sebagai tanda kontribusinya kepada negara ini maka sangat ironis sekali bahwasannya insan-insan cendikia berintelektualitas tinggi di bidang pertanian tidak mengetahui peran dan kontribusi apa yang akan diberikan untuk kemajuan pertanian. Kontribusi mahasiswa khususnya mahasiswa pertanian sering disalahartikan dan hanya terbatas bahwa kontribusi yang bisa dilakukan hanya melalui aksi-aksi demonstrasi mengkritisi kebijakan pertanian yang cenderung merugikan petani. Padahal kontribusi-kontribusi lain yang dapat diberikan oleh seorang mahasiswa pertanian dengan kekayaan khasanah jiwa dan semangat pertaniannya sangat banyak, misalnya melalui pendampingan petani dalam program bina desa pertanian, training-training yang dilakukan melalui kelembagaan mahasiswa di tingkat perguruan tinggi, kampanye membangun image pertanian dan lain sebagainya.

Masih banyak peluang kontribusi yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa pertanian seperti mengirimkan tulisan yang berisi pemikiran-pemikiran penting tentang kebijakan pertanian yang sedang digulirkan, melakukan penelitian yang dipublikasikan ke masyarakat dan dunia usaha,dan masih banyak lagi peluang yang bisa dijadikan celah untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan pertanian Indonesia. Hanya saja peluang-peluang kontribusi yang ada dihadapan mata itu tidak akan terlaksana jika tidak ada niat yang kuat dari mahasiswa pertanian itu sendiri sebagai subjeknya.


Peranan Mahasiswa dalam Revitalisasi Pertanian

Setelah kita membicarakan tentang peluang kontribusi yang dapat diberikan oleh seorang mahasiswa pertanian, selanjutnya secara spesifik akan diuraikan tentang peranan seorang mahasiswa pertanian yang bisa dilakukan saat ini terkait dengan program Revitalisasi Pertanian yang telah digulirkan satu tahun silam oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Waduk Jati Luhur Purwakarta. Beberapa catatan penulis yang bisa dijadikan bahan perenungan dan pemikiran mendalam tentang bagaimana peranan yang diberikan oleh mahasiswa pertanian dalam Revitalisasi Pertanian.

Peranan yang bisa diambil oleh mahasiswa harus disesuaikan dengan program pemerintah dalam hal ini Departemen Pertanian agar tercipta sinergisitas yang kbersifat konstruktif. Program Departemen Pertanian yang tertuang dalam blue print Revitalisasi Pertanian adalah meningkatkan ketahanan pangan, pertanian berbasis agroindustri dan kesejaterahaan petani. Dari sana mahasiswa bisa memberikan peranan yang signifikan dalam rangka membantu mempercepat terlaksananya program-program tersebut. Peranan yang bisa diambil oleh seorang mahasiswa pertanian yang berlandaskan peran dan fungsi mahasiswa secara umum adalah sebagai berikut :

1. Melakukan pendampingan petani yang menyeluruh, langkah ini dilakukan guna membantu menambah pengetahuan secara teoritis yang disesuikan dengan lapangan melalui lembaga-lembaga kemahasiswaan baik di tingkat institusi perguruan tinggi maupun komunitas mahasiswa pertanian di tingkat nasional. Peran ini diambil dalam rangka mempercepat proses transformasi ilmu-ilmu pertanian modern ke dalam masyarakat petani sehingga proses pengembangan pertanian berbasis agroindustri akan dengan cepat terwujud. Pendampingan petani ini bisa dilakukan dengan berkerjasama dengan NGO yang bergerak dibidang pertanian dan Dinas Pertanian setempat untuk menselaraskan program pendampingan dengan program Dinas setempat. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pendampingan ini dari mulai proses pembukaan lahan (jika ada), budidaya, pemeliharaan, panen dan pasca panen, teknologi pengolahan sampai proses pemasaran dan kelembagaan. Mahasiswa dapat membantu dengan sarana penyuluhan dan training kepada petani juga memerbikan peluang pasar yang dapat digunakan oleh petani dalam menjual hasil pertaniannya.

2. Melakukan kegiatan yang membangun image of agriculture, peran ini hanya bisa dilakukan oleh mahasiswa yang memiliki jaringan nasional dan basis massa yang besar. Pembangunan citra pertanian sangat perlu untukmerubah paradigma berpikir bangsa Indonesia tentang pertanian. Citra pertanian saat ini sangat menurun terutama di tingkat anak-anak sekolah dasar sampai sekolah menengah ke atas bahkan di tingkat perguruan tinggi. Kampanye-kampanye pertanian yang membuat generasi muda tersadar akan pentingnya pertanian dengan segala potensi yang dimiliki oleh bangsa kita. Selain melakukan pendekatan-pendekatan dengan sarana radio, televisi, surat kabar dan media publikasi lainnya mahasiswa pertanian bisa melakukan pemasayarakatan pertanian, menyadarkan orang-orang tua dan generasi muda bahwa pertanian tidak hanya mencangkul di sawah dan memiliki masa depan yang suram dengan jalan mengadakan training-training yang bernuansa pertanian yang dikemas dalam acara yang menarik untuk anak-anak SD, SMP dan SMA. Sehingga mereka akan merasakan dekatnya pertanian dangan diri mereka. Disamping memberikan penyadaran terhadap anak-anak remaja dan pemuda, mahasiswa pertanian juga dapat membuka jaringan dengan NGO bersifat global untuk mensosialisasikan atau memberikan informasi yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan stakeholders pertanian yang berasal dari luar negeri.

3. Melakukan advokasi terhadap kondisi petani dan buruh tani sebagai subjek pertanian secara langsung. Advokasi dilakukan saat petani termarginalkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah. Di sinilah peran mahasiswa yaitu sebagai moral force dan balancing power. Advokasi sering dipersempit pengertiannya kepada aksi demonstrasi. Padahal jika kitamengetahui dasar-dasar advokasi maka kesimpulan kita akan mengarah bahwa aksi adalah salah satu bagian terkecil dari advokasi yang dilakukan oleh mahasiswa atau presure group lainnya. Advokasi dapat berupa audiensi terhadap pihak-pihak pemerintah terkait kebijakan yang dikeluarkan, dapat juga dengan memperbaiki distribusi nilai tambah petani sehingga keuntungan terbesar dapat dinikmatioleh petani bukan pelaku-pelaku lain seperti tengkulak. Selain itu mahasiswa juga dapat memberikan masukan konsep tertulis tentang pertanian kepada pemerintah.

Keseluruhan peranan yang bisa diambil oleh mahasiswa khususnya mahasiswa pertanian Indonesia merupakan representasi dari peluang kontribusi yang ada, yang bisa dilakukan oleh mahasiswa. Kontribusi mahasiswa pertanian tidak dapat terlepas dari peranan perguruan tinggi terhadap pembanguan pertanian di Indonesia seperti yang tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan, Penelitian dan pangabdian Masyarakat.

PENUTUP

Indonesia merupakan negara yang beruntung yang diberikan kekayaan alam berupa potensi pertanian yang melimpah. Dan hampir sebagian besar penduduk Indonesia berada di wilayah pedesaan yang bermata pencaharian sebagai petani, buruh tani, nelayan dan lain-lain. Tingkat kesejahteraan petani pun masih rendah, hal ini ditandai dengan kecilnya nilai tukar petani sebagai indikator kesejateraan petani. Pembangunan di sektor pertanian adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh bangsa ini karena pembangunan di sektor pertanian dapat menyelesaikan masalah-masalah seperti kemiskinan, meningkatkan taraf hidup dan menyediakan pangan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Mahasiswa sebagai aktor intelektual muda yang memiliki akses cukup besar ke kalangan bawah (masyarakat) maupu kalangan atas (pemerintah) harus mampu berperan dalam proses pembangunan pertania. Mahasiswa pertanian dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah pertanian dengan ilmu yang dimilikinya, membantu percepatan pembangunan pertanian dengan melakukan pendampingan petani, image building of agriculture dan melakukan advokasi-advokasi pertanian yang bisa membantu mensejahterakan petani. Dengan peran-peran itulah pertanian Indonesia akan bangkit dari tangan-tangan pembaharu yakni Mahasiswa Pertanian Indonesia.

Adalah mereka-mereka lah yang akan mendapatkan hasil yang mereka impikan saat jantung mereka sudah tidak berdetak lagi. Idealisme mahasiswa pertanian untuk selalu mengusung perubahan mendasar di bidang pertanian tidak boleh luntur karena permasalahan-permalahan pertanian yang dihadapi, semestinya seorang mahasiswa pertanian harus dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dengan keluasan ilmu dan intelektualitasnya.

Salam perjuangan pertanian atas nama cinta......

Salam cinta atas perjuangan pertanian................

Tiada kata jera dalam perjuangan

Hidup Mahasiswa..............

Hidup Rakyat Indonesia........

Hidup Petani, buruh tani, nelayan, masyarakat pesisir........

Hidup Pertanian Indonesia.....Jayalah Pertanian Indonesia !!!!

1 Comments:

At 12:56 AM, Blogger lidah penghunus said...

assalamualaikum. jemputlah ke http://lindunganbulan.blogspot.com dan http://karyamuslim.blogspot.com

 

Post a Comment

<< Home